Perubahan Rencana: SBMPTN 2019 dihapus?

Di awal semester genap ini, para senior kelas 12 di sekolah maupun teman sepermainanku sudah heboh ngomongin tentang ujian, praktek, try out, UN, ujian masuk universitas via SNMPTN maupun SBMPTN. Jadi terinspirasi untuk melakukan sesuatu karena mereka yang heboh itu.

Baru mau berekspektasi, terdengarlah kabar bahwa tahun depan SBMPTN akan dihapus. Entah aku harus senang atau sedih. Loh emangnya apa yang bisa disyukuri dari penghapusan SBMPTN nanti jen? Apalagi kalau cuma mengandalkan SNMPTN aja, nilai rapor mu itu loh gak sesuai ekspektasi. Gimana nasibmu sebagai pejuang PTN ’19 ? Ya ya, kebanyakan mereka yang baca kabar itu menyimpulkan hal itu tapi dari artikel yang kubaca di internet sih enggak persis kayak gitu. Pokoknya tetap akan ada ujian terpusat gitu deh katanya. Aku juga masih kurang paham. Jadi let it flow aja dan buat teman seperjuanganku; nasib masa depan kita ga ditentukan sama SBMPTN. Masih banyak jalan yang bisa kamu pilih dari rencana Tuhan yang telah disediakan juga dibantu dengan konspirasi alam semesta. 🙂

Tapi bukan soal SBMPTN yang jadi perubahan rencana yang aku mau sampaikan di blogpost ini kepada mereka yang pernah ngobrol atau baca tulisanku di blog atau komentar sehingga tahu (sedikit-banyak) tentang goals-ku. 

Terkadang, seseorang bisa sebegitu naifnya sampai tidak bisa mengetahui apa yang sedang ia lakukan itu ternyata berpengaruh besar terhadap masa depannya, seperti aku.

Akhir-akhir ini aku jadi suka baca artikel dari forum belajar daring: zenius.net untuk cari motivasi belajar di semester genap—yang tahun lalu mengalami degradasi. Hingga aku stuck di satu artikel judulnya: Punya cita-cita keren? Semangat aja ga cukup, lo butuh strategi!

Siapa sih yang ga punya cita-cita? Oke kalaupun misalnya di antara kalian ada yang belum ada kepikiran cita-cita jangka panjang karena ngerasa masih lama dan masih bingung. Tapi, iris kuping sapi punya tetangga sebelah, kalau at least kalian pasti punya rencana misalnya kayak aku waktu itu; mau kurusin badan sebelum studytour atau mau jadi astronot yang bisa pergi ke 20 planet sekaligus, misalnya. Pastilah semua cita-cita/impian/sekedar rencana belaka/goals/apapun itu butuh proses, betul? Nah maka dari itu, setelah buka artikel ini aku merasa ditampar habis-habisan (sedikit bersyukur) padahal baru masuk di tips yang pertama: Jangan gembar-gembor sama orang lain tentang apa yang jadi impian lo, keep it for yourself! 

What the hell! Eh gilaaa kesindir abis sih, secara gitu kan, i’m a blogger, kadang suka gatel aja gitu mau curhat—entah hal yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi a.k.a mimpi atau aku lebih suka menyebutnya goals. Yang mostly niatnya cuma mau menuhin blogpost dengan tulisan receh aja gitu, tapi ternyata…

Dan bahkan di artikel itu authornya cerita tentang sebuah penelitian dari Derek Siver dengan kalimat pembukaan seperti ini,“orang yang menyimpan tujuan, goals, cita-cita, atau impiannya untuk dirinya sendiri itu jauh lebih cenderung untuk berupaya mewujudkan hal tersebut ketimbang orang yang suka ngomongin tentang cita-citanya itu ke orang lain.” 

Jleb. Makin down juga setelah kesimpulan dari hasil penelitian itu yang kalau kutafsirkan dalam bahasaku bahwa habit curhat sedikit-banyak merusak mental secara psikologis.

Kenapa bisa gitu? Ternyata orang-orang yang ngasih tau tujuan mereka ke orang lain itu ngerasa mendapatkan pengakuan sosial dari lingkungan mereka. Penelitian-penelitian psikologis terkait hal ini ngebuktiin bahwa semakin lo ngasi tau tujuan-tujuan lo kepada orang lain, semakin kecil juga kegigihan lo untuk mewujudkan hal tersebut karena lo merasa sudah mendapatkan apa yang lo inginkan (which is pengakuan sosial). dalam proses usaha yang sebetulnya belum seberapa.

Oke, aku jadi merasa ga butuh pengakuan sosial, aku belum dapat satupun dari hal yang aku impikan. Ini sukses bikin aku merasa gagal sebelum berperang dan aku sedang berusaha mutar otak 180 derajat supaya hal itu ga terjadi sama aku. Jadi, jalan satu-satunya adalah mengubah seluruh rencana yang pernah aku omongin sama orang—bahkan sama keluarga sekalipun. Atau tulisan bahkan komentar di blog. Jadi, jangan kaget kalau kalian melihat pencapaianku nantinya ga sesuai dengan apa yang pernah kamu baca ataupun kamu dengarkan langsung dari aku ya. 🙂

Aku mungkin gagal dalam mempertahankan nilai dan gagal menyimpan sebuah rencana dalam hidupku di masa depan untuk diriku sendiri dengan banyak ngomong sama orang atau kebanyak curhat di blog ini, tapi dari artikel yang sama, aku pencerahan…

dalam proses kita mencapai sesuatu, trial and error merupakan hal yang sangat wajar terjadi dalam siklus kehidupan kita. Siapa sih orang di dunia ini yang ga pernah gagal? Thomas Edison itu gagal sampai 10.000 kali untuk nemuin yang namanya bohlam lampu, Steven Spielberg pada awal karirnya ditolak oleh 3 sekolah film karena dia dianggap gak layak, Walt Disney sering dihina sebagai orang yang ga kreatif… Kadang yang bedain orang sukses dan gagal itu sesederhana bagaimana kita merespon kegagalan.

It’s okay I think.. Inhale.. Exhale…
Aku masih punya sedikit waktu untuk memperbaiki kegagalanku ini, tapi ga akan (lagi) kujabarkan di sini. Let me keep just for myself. Ga perlu lagi ada orang yang tahu tentang my new goals. Tapi goals yang pernah kutulis di sini semoga pernah menginspirasi teman-teman yang baca.

Sekarang jadi malah bersyukur beneran udah baca artikel dari zenius ini.

Let’s be friends!

Twitter|Instagram|Ask.fm

Published by jenari

Hell-o! Tak kenal maka tak sayang, kenalan dulu siapa tau bisa sayang. XD People said, “the best teacher is experience.” And I'm a curious teenager, will change it into a story on my blog. Pencari passion dari berbagai hobi mulai dari belajar, membaca, menulis, main musik, nyanyi, travelling, dan beberapa passion terpendam lainnya. haha. Seorang remaja yang penasaran akan banyak hal. Aku berharap kalian bisa terinspirasi dari setiap tulisan yang ada di blog kecilku ini! Keep in touch with me yang suka nyasar ke instagram: @jenariii and twitter: @jenarilk1

Join the Conversation

14 Comments

  1. Hi Jen!
    Bener sih rasanya nggak bagus kalau kita ngasih tau terus apa saja tujuan kita ke orang banyak. Tapi toh kamu nulisnya di blog dan kamu punya tujuan sendiri kenapa kamu tulis di blog. Beberapa orang menulis sebagai aktivitas self-healing, beberapa lagi menulis sebagai pengingat. Dan percayalah. nggak ada yang lebih baik daripada mimpi yang dituliskan, entah itu kamu sendiri yang bakal baca atau banyak orang

    Akhirnya keputusan ada di kamu. Ingat lagi kenapa kamu punya mimpi seperti itu. Terus kejar yah!

    Liked by 1 person

    1. Iya kak, aku mungkin terlalu parno. Terlalu takut dalam mengambil langkah, rasanya itu ga benar ini juga salah.. Semoga tulisan yang pernah ku publish ga jadi batu sandungan buatku nantinya. Amin..

      Makasih Kak Fadel wejangannya. Dirimu juga terus kejar mimpimu ya Kak!

      Liked by 1 person

  2. Wiihhh anak zenius.net nih? Hehe… aku jg prnh baca artikel itu dan aku jg ngrasa tertampar :v
    Jadi, sblmny aku suka kemana2 dan ngebahas kalo aku mau jd dokter. Gak lama stlh aku baca artikel itu, aku tobat. Bbrp bln kemudian, aku punya bbrp mimpi (dan akhirnya aku cancel jd dokter), dan gak aku gembor2in kemana2. Cukup aku sama diary aku aja yg tw (ciaelah diary)
    Duh dasarnya manusia, meskipun ngaku udh tobat gak gembor2in ptn impian, msh aja suka cerita kemana2 hehe….
    Artikel ini bs jd reminder bwt aku utk kembali “ke jalan yang benar” :v
    Makasih Kak, artikelnya menginspirasi

    Liked by 1 person

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: